Resolusi Diri Di Penghujung Akhir Tahun 2021

Opini Oleh : Daeng Supriyanto

Tak terasa bergulirnya waktu demi waktu telah membawa kita pada pengujung tahun 2021 dan memasuki tahun 2022. Kini pantaslah jika kiranya kita mau meluangkan waktu sejenak untuk merenung atas perjalanan hidup kita. Baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sebagai rakyat biasa, pejabat atau yang diamanahi memimpin negara.

Jika boleh ditamsilkan, perjalanan hidup kita ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh dan sangat meletihkan. Perjalanan yang sangat mungkin tidak mulus, harus mendaki, menurun, berliku-liku penuh onak dan duri dengan berbagai rintangan.

Di tengah perjalanan si musafir mencoba berhenti sejenak, duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Kemudian, ia mencoba merenung dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sudah berapa jauhkah perjalanan yang telah dilaluinya, dan masih berapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuhnya?”

Pada satu titik kulminasi perenungannya, pada gilirannya musafir tadi timbul keinginan untuk mau mempertanyakan kepada dirinya tentang: “Apakah selama ini ia telah menempuh jalan yang benar ataukah ia telah mengambil jalan yang sesat, sehingga sebenarnya ia tidak akan pernah sampai kepada titik tujuan yang menjadi cita-citanya?”

Bila saja tamsil ini dinisbatkan pada kehidupan, maka pantas bahkan tepat sekali rasanya bila pada akhir 2021 memasuki 2022 kita sudah selayaknya mau mencoba merenung, bertafakur dan bertadzakkur, mencoba untuk “Muhasabah an nafs”, introspeksi diri kita masing-masing: “Telah seberapa jauhkah perjalanan hidup yang telah kita tempuh, dan masih berapa jauh lagi perjalanan hidup yang harus kita lalui?”

Namun, yang terpenting tentunya kita harus mau secara jujur mempertanyakan pada diri kita masing-masing. Sebagaimana yang ditanyakan musafir tersebut pada dirinya: “Apakah selama sekian puluh tahun kita hidup di alam dunia ini, baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita telah menempuhnya dengan jalan yang benar menurut petunjuk Allah dan Rasul-Nya? Ataukah malah kita telah meniti jalan yang salah sehingga titik tujuan terakhir dari perjalanan hidup kita untuk mencapai “Mardhatillah” (Ridha Allah SWT) masih harus kita pertanyakan kembali kepada diri kita masing-masing?”

Jawaban dari beberapa pertanyaan di atas, tentu ada pada diri kita masing-masing untuk dapat dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya nanti. Andaikata, semua pertanyaan yang diajukan kepada diri kita masing-masing dalam renungan bertepatan pengujung tahun 2021 ini kita jawab dengan benar, maka Alhamdulillah.

Namun, jika beberapa pertanyaan tersebut dengan jujur kita jawab, belum benar, atau bahkan tidak benar, maka mari mengingatkan diri kita masing-masing atas adanya peringatan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian menyatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya (lain yang di hati, lain yang diucapkan dan lain pula yang diperbuat). Betapa besarnya rasa benci dan murka Allah bilamana kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya” (QS ash Shaff:2-3).

Tahun baru sudah di pelupuk mata, tinggal menghitung hari saja. Sebagian orang telah ancang-ancang menyiapkan segala sesuatu demi menyongsong Tahun Baru. Sebagian yang lain menyikapinya dengan biasa-biasa saja, seperti tidak ada yang spesial dengan tahun baru. Ada pula yang berdebat mengenai boleh dan tidaknya merayakan tahun baru.

Apakah anda termasuk pada golongan orang pertama, kedua, ataupun ketiga, tidak menjadi masalah. Selama kita bisa hidup damai dan saling menghargai satu sama lain, selama itu pula hidup kita bisa penuh dengan kebahagiaan. Namun, sebaiknya bagaimana sikap kita dalam menyongsong tahun baru 2022

Cara terbaiknya adalah dengan introspeksi diri. Melihat kepada diri sendiri, merenungkan seluruh kegiatan kita selama setahun belakang. Selain merefleksikan perbuatan diri, kita juga bisa belajar dari para ulama dalam melakukan introspeksi diri.

Dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, Abu al-Laits Nashr bin Muhammad al-Samarqand, menerangkan bahwa ada tujuh sikap atau amal yang sia-sia karena tidak dibarengi dengan tujuh sikap lainnya. Bagi penulis, hal ini bisa dijadikan bahan refleksi akhir tahun sekaligus cara menyongsong tahun baru agar apa yang kita rencanakan bisa lebih maksimal dalam pelaksanaannya.

 

Pertama, menyatakan diri memiliki rasa khauf tetapi tanpa dibarengi dengan sikap hadzar. Maksudnya, pernyataan diri semisal “aku takut siksa Allah Swt,” tetapi tidak menghindar dari perbuatan dosa, maka khaufnya itu hanyalah sia-sia.

Kedua, merasa punya sifat raja’ tetapi tidak disertai dengan sikap thalab. Dalam arti seseorang mengatakan “aku berharap pahala dari Allah Swt,” tetapi tidak disertai dengan usaha beramal saleh, maka raja’nya itu hanya ilusi.

Ketiga, melakukan perbuatan saleh dengan niat, tetapi tidak disertai qasd. Perumpamaan ini seperti orang yang telah niat berbuat baik dan ketaatan, tetapi dirinya tidak bergerak untuk memulai perbuatan itu sama sekali, maka niatnya tidak begitu berarti.

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *