Kajian Organologi Instrumen Gonrang Sipitu – Pitu

Artikel ini dibuat oleh Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

PLATMERAHNEWS.COM || SUMUT ||Etnis Simalungun atau juga disebut Batak Simalungun adalah salah satu etnis asli dari Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur etnik Simalungun berasal dari daerah India Selatan. Etnik Simalungun memiliki budaya yang sudah diwariskan oleh para nenek moyang secara turun-temurun. Salah satu bentuk kebudayaan para leluhur masyarakat Simalungun antara lain: seni musik, seni tari, dan seni rupa.

Pada masyarakat Simalungun banyak kesenian yang digunakan dalam upacara ritual, upacara adat, hiburan, dan pertunjukan seni. Pada tulisan ini penulis lebih fokus membahas aspek seni musik pada masyarakat Simalungun.

Dalam bidang seni musik etnis Simalungun terdapat dua jenis musik tradisional, yaitu instrumenal dan vocal (nyanyian). Dari segi instrumenal, berdasarkan organologinya, alat musik etnis Simalungun terdiri dari: (1) Idiofon (mongmongan, hodong-hodong, ogung, sitalasayak, dan garantung), (2) Aerofon (sarune bolon, sarune buluh, tulila, sulim, sordam, saligung, ole-ole dan ingoningon), (3) Mebranofon (gonrang sidua-dua, gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon), Kordofon (arbab, husapi, tengtung). Dari segi vokal/nyanyian, masyarakat Simalungun memiliki nyanyian rakyat yang disebut sebagai doding,bernyanyi dalam bahasa etnik Simalungun disebut mandoding.
Adapun jenis-jenis nyanyian rakyatSimalungun adalah: taur-taur dan simanggei (nyanyian cinta), orlei dan mandogei(nyanyian untuk bekerja), tihtah (nyanyian permainan anak), urdo-urdo (nyanyian menidurkan anak), tangis (tangisan), mandillo tonduy dan manalunda/mangmang(nyanyian untuk pengobatan), ingou turi-turian (nyanyian bercerita), nyanyian Simalungun memiliki cirri khas tersendiri yaitu memiliki inggou (Purba, 2:2015). Sistem kesenian tradisional masyarakat Simalungun, dikenal istilah “gonrang” yang dapat diartika sebagai alat musik dan dapat juga diartikan sebagai ensambel musik tradisional, yaitu:(1) ensambel gonrang sidua-dua, seperangkat alat musik tradisional Simalungun yang terdiri dari satu buah sarune bolon, dua buah gonrang, dua buah mongmongan, dan dua buah ogung; (2) Ensambel gonrang sipitupitu, seperangkat alat musik tradisional Simalungun yang terdiri dari satu buah sarune bolon, tujuh buah gonrang, dua buah mongmongan, dan dua buah ogung. Dalam tulisan ini, penulis mengkaji tentang salah satu instrumen dari ensambel gonrang bolon, yaitu gonrang sipitu-pitu, yaitu terdiri dari 7 (tujuh) buah gonrang dengan ukuran yang berbeda-beda. Instrumen musik gonrang sipitu-pitu tergolong dalam klasifikasi membranofon karena sumber utama bunyinya berasal dari kulit yang dimainkan dengana cara dipukul dengan menggunakan sepasang alat pemukul. Gonrang sipitupitu pada umumnya disajikan dalam bentuk ensambel musik tradisional etnis Simalungun, yaitu ensambel gonrang bolon.

Jika kita perhatikan eksistensi gonrang sipitu-pitu di Simalungun pada masa kini, penggunaan gonrang sipitu-pitu pada upacara-upacara adat masyarakat Simalungun mengalami pergeseran nilai-nilai sebagai musik tradisional daerah. Dari hasil pengamatan penulis, banyak masyarakat Simalungun tidak lagi menggunakan gonrang sipitu-pitu pada upacara adatnya, melainkan hanya menggunakan instrumen musik keyboard dan sulim (dalam bahasa Indonesia disebut seruling). Di sisi lain, ada juga yang menggunakan taganing (jenis gendang tradisional yang berasal dari etnis Batak Toba) untuk menggantikan peranan gonrang sipitu-pitu pada musik pengiring dalam upacara adat Etnis Simalungun. Hal di atas tentu sangat berhubungan dengan keberlangsungan ataupun kelestarian gonrang sipitu-pitu itu sendiri.

FUNGSI DAN KAJIAN ORGANOLOGI GONRANG SIPITU-PITU SIMALUNGUN
A. Persefektif Sejarah
Dalam kutipan sejarah gonrang sipitu-pitu, penulis mengacu pada pengertian sejarah yang dikemukakan oleh Mohammad Yamin, yaitu: “Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.“Gonrang sipitu-pitu adalah salah satu instrumen musik tradisional Simalungun yang memiliki nilai sakral dan spritual. Sejarah gonrang sipitu-pitu pada zaman dahulu, dimainkan pada upacara ritual (memuja-muja) yaitu untuk upacara penyembuhan, upacara pemanggilan roh leluhur agar masuk kedalam sukma seseorang yang telah dipersiapkan untuk itu. Biasanya roh-roh leluhur yang datang itu menyampaikan pesan, nasehat, dan peringatan bila akan ada datang ancaman bahaya berupa serangan penyakit, niat-niat jahat dan serangan musuh, sekaligus memberikan takkal (anti) dan solusi menghadapinya. Akan tetapi, ini dapat dimainkan pada saat waktu tengah malam yang dalam arti masyarakat sudah tertidur, karena agar lebih fokus dalam permainan dan lebih mudah untuk mendatangkan roh tersebut. Akhlak dan budi pekerti dalam kepribadiannya menunjukkan bahwa para leluhur kita menyadari ada sesuatu yang lebih hebat, lebih kuat, lebih agung, yang mempunyai kemampuan yang luar biasa diluar dirinya sebagai seorang manusia pada umumnya.
Dulu mereka ada yang menyebut namanya begu-begu, sinumbah, pagar, begu ni opung, batara guru, habonaran (berbeda dengan habonaron). Habonaranyaitu sejenis jin/makhluk halus berpenampilan kecil-kecil dan pendek-pendek, berkharakter baik, suka menolong, terutama pada kepada kaum wanita. Sedangkan Habonaron yang berarti kebenaran sesuai dengan palsapah Simalungun yang identik dengan motto pemerintah daerah Simalungun, yang sering disebut dalam Simalungun yaitu “Habonaron do Bona”. Konon Habonaran ini adalah roh-roh anak-anak balita yang meninggal, Sahala ni Oppung, Oppung Naibata, dan lain-lain.Disebutlah Dia Sang Raja Causa Prima atau Sang Maha Pencipta yang wajib dihormati dan harus disembah. Oleh karena itu pula segala aktivitasnya sehari-hari selalu mengatas namakan Sang Maha Pencipta tersebut serta segala hasil karya dan hasil pekerjaanya (hasil panen) selalu pertama kali dipersembahkan kepada Sang Pencipta tersebut. Termasuk juga apabila jama dahulu kala para leluhur kita dan hingga sekarang para orangtua kita bila akan memulai membunyikan gendang dalam acara-acara resmi yang membawa nama adat, selalu ada 3 (tiga) gual (lagu) khusus dipersembahkan kepada Sang Maha Pencipta tadi dan ketiga gual ini belum boleh ditarikan oleh manusia.
Setelah ajaran agama masuk di Simalungun, dikenallah Dia dengan nama “Tuhan Yang Maha Esa”. Maka dari itu, pada saat ini sudah sangat jarang dilakukan ritual (memuja-muja) terhadap roh leluhur, melainkan pada saat ini sering kita temukan pada saat pertunjukan-pertunjukan kebudayaan.

B. Defenisi Gonrang Sipitu-pitu
Pada bab ini juga menjelaskan suatu batasan atau arti, bisa juga dimaknai kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas yang disebut dengan definisi (dikutip dari id.m.wikipedia.org/wiki/definisi).Dalam kamus besar bahasa Indonesia, definisi adalah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi. Selain itu definisi juga diartikan sebagai uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian. Pengertian gonrang sipitu-pitu pada sistem kesenian masyarakat Simalungun memiliki dua pengertian, yaitu gonrang sipitu-pitu adalah sebuah ensambel musik, dan sebuah instrumen musik. Penggunaan gonrang sipitu-pitu biasanya digunakan sebagai musik pengiring pada upacara kematian dan upacara ritual. Sedangkan pada acara-acarsukacitbiasanya diiringi oleh ensambel gonrang bolon yang di dalamnya juga terdapat instrumen gonrang sipitu-pitu. Gonrang bolon terdiri dari 7 (tujuh) buah gonrang atau yang disebut dengan gonrang sipitu-pitu, 1 (satu) buah sarunei bolon, 2 (dua) buah gong dan 2 (dua) buah momongan. Gonrang sipitu-pitu dalam arti sebagai instrumen musik tradisionalmerupakan alat musik pukul yang terbuat dari beberapa kayu yang kuat, kuat dalam arti sudah memiliki umur yang lama dan tidak mempunyai cacat fisik pada batang kayu. Kayu yang dapat dibuat dalam gonrang sipitu-pitu dapat meliputi kayu ingul, nangka dan lain sebagainya. Dalam penelitian penulis, kayu yang diambil yaitu kayu nangka (Artocarpus Integra Sp.), memiliki umur lebih dari 10 (sepuluh) tahun menurut yang punya pohon tersebut, tidak cacat fisik dan mempunyai batang kayuyang kuat. Kayu nangka ini juga bukan hanya untuk badan gonrang saja, melainkan dibuat untuk pamalu sebagai alat pemukul dalam permainan gonrang sipitu-pitu.Dalam kebudayaan musik Simalungun, selain gonrang sipitu-pitu juga terdapat gonrang sidua-dua. Berikut ini penulis akan memaparkan perbedaan antara gonrang sipitu-pitu dengan gonrang sidua-dua.Adapun perbedaan gonrang sipitu-pitu dengan gonrang sidua-dua, yaitu :

  1. Jumlah gonrang dan personilnya berbeda. Jika pada gonrang sipitu-pitu jumlah gonrang ada 7 (tujuh) buah gonrang dengan jumlah penabuh (pemain musik) yaitu 3 orang. Jika pada gonrang sidua-dua terdapat 2 (dua) buah gonrang dan jumlah pemainnya hanya 2 (dua) orang.
  2. Pada gonrang sidua-dua, kedua sisi lobang atas dan bawah dibubuhi kulit dan kedua belah sisi lobang dapat dipukul dengan telapak tangan dan juga dapat dengan menggunakan jari atau alat bantu pemukul pamalu. Jika pada gonrang sipitu-pitu hanya dapat dimainkan dengan pamalu saja dan pada sisi yang atas saja.
  3. Pada gonrang sidua-dua juga mempunyai susunan ataupun posisi gonrang diletakkan membentang didepan penabuh (pemain musik) atau dipangku karena penabuh (pemain musik) gonrang sidua-dua posisinya duduk bersila. Jika pada gonrang sipitu-pitu mempunyai susunan berjejer dengan digantung pada sebuahrak yang sedemikian rupa sesuai nada: do, re, mi, fa, sol, la, si, dan hanya dapat dipukul di bagian atas saja. Adapun persamaan gonrang sipitu-pitu dengan gonrang sudia-dua, yaitu kedua jenis gonrang ini sama-sama dapat menghasilkan bunyi dan irama yang sama dalam semua jenis gual (lagu), judul, nada, ritme, dan irama dasar. Pada umumnya gonrang ini diadakan untuk hiburan. Hiburan yang terikat dengan etika adat dan norma-norma susila yang membatasi gerakan-gerakan penarinya pada batas gerakan yang santun.

Permainan gonrang sipitu-pitu dengan gonrang sidua-dua sama-sama sebagai tempo pengiring sarune. Akan tetapi pada saat sekarang ini, gonrang sipitupitu lebih sering digunakan dalam sebuah acara Simalungun. Karena melihat banyaknya peminat dikalangan masyarakat Simalungun yang menyatakan jika memakai gonrang sidua-dua memiliki nuansa (suasana) misti (memuja roh-roh leluhur.

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *