Dampak COVID-19 Terhadap Perkembangan Gundala-Gundala di Desa Lingga Karo

PLATMERAHNEWS.COM || MEDAN || Indonesia termasuk kedalam 20 negara kepulauan terbesar didunia. Memiliki beragam suku, budaya, ras, agama didalamnya. Salah satunya adanya suku Karo yang merupakan suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Keberadaannya juga menyebar di provinsi Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Karo, sebagian Kabupaten Aceh Tenggara, sebagian Kabupaten Langkat (Langkat Hulu), Sebagian Kabupaten Dairi,sebagian Kabupaten Simalungun, dan sebagian Kabupaten Deli Serdang serta juga dapat ditemukan di kota Medan & Kota Binjai.
Suku karo juga merupakan salah satu sub dari 6 sub suku batak, yaitu Batak toba, Batak Mandailing, Batak Angkola, Batak Pak-pak, Batak Simalungun dan terakhir Batak Karo itu sendiri.Dimana setiap suku ini memiliki ciri khas dari bahasa, kebudayaan, maupun kepercayaan yang dianut. Bahasa dari suku Karo sendiri disebut Bahasa Karo/Cakap Karo
Kepercayaan dari suku Karo sendiri sering disebut Pamena, yang berarti awal/pertama. Artinya bahwa kepercayaan Pamena ini adalah kepercayaan yang pertama hadir di dalam masyarakat Karo. Namun sekarang ini masyarakat Karo sudah menganut agama dengan mayoritas beragama GBKP.

Selain dari pada itu suku Karo juga kaya akan budaya keseniannya dari berbagai bidang seni antara lain seni bela diri yang sering disebut ndikar, seni musik yang terkenal dengan Gendang Lima Sendalanen, tradisi Guro-Guro Aron, serta seni Tari yang terdiri atas Tari Piso Surit, tari Terang Bulan, Tari Gundala-gundala, dan masih banyak lagi
Gundala-gundala merupakan salah satu tarian tradisional suku Karo yang menggunakan topeng dimana topeng merupakan benda yang dipakai di atas wajah.

Fungsi topeng di setiap kesenian daerah umumnya untuk menghormati sesembahan atau memperjelas watak dalam mengiringi kesenian. Ada berbagi macam bentuk topeng, ada yang menggambarkan watak marah, ada yang menggambarkan lembut, dan adapula yang menggambarkan kebijaksanaan.
Kehidupan masyarakat modern saat ini menempatkan topeng sebagai salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, tetapi sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit dijelaskan.

Dengan latar belakang ini kami menyusuri lagi bagaimana sejarah dari gundala-gundala ini, bagaimana proses perkembangannya, makna dan nilai sosial yang terkandung, seta bagaimana tradisi ini dapat bertahan kedepannya.

Sejarah Gundala-Gundala
Gundala-gundala adalah salah satu tradisi yang lahir di Tanah Karo tepatnya di desa Lingga. Dimana asal usul sebenarnya dari Gundala-gundala ini dituturkan oleh bulang M. Yahmin Sinulingga adanya seorang Raja yang memiliki putri kesayangan dimana putri ini mempunyai sifat yang sangat manja.
Karena sudah beranjak dewasa sang Raja kemudian mengajak putrinya untuk pergi berburu kehutan. Ditengah perjalan menju ke hutan seorang lelaki miskin yang mencintai putri raja, dengan ilmunya mengubah dirinya menjadi seperti ayam (manuk sigurda gurdi). Dimana menurut kepercayaan bagi penganut manuk sigurda-gurdi sangat pantang jika seseorang memegang ekor bahkan sampai mencabut salah satu bulu dari manuk sigurda-gurdi, karena apabila terjadi maka tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Lelaki ini mengetahui bahwa raja dan putrinya sedang menuju kehutan sehingga dia mengikuti mereka dan pasukannya. Panglima yang saat itu ikut mengawal Raja melihat
kedatangan dari manuk sigurda-gurdi. Karena ketertarikannya kepada sang putri manuk sigurda-gurdi ini terus berusaha mendekati sang putri, namun tak disangka karena ketertarikan sang putri melihat indahnya bulu manuk sigurda-gurdi sang putri tidak sengaja mencabut bulu dari manuk sigurda-gurdi. Akibatnya manuk sigurda-gurdi pun marah dan langsung bertarung dengan para panglima yang mengawal raja.

Pertarungan ini terjadi selama 7 hari 7 malam dan tidak ada satupun pihak yang kalah. Mengetahui kelemahan dari manuk sigruda-gurdi sang panglima akhirnya mencabut bulu dari manuk sigurda-gurdi dan memenangkan pertarungan.

Maka sesudahnya menarilah para Raja, putri dan panglima untuk merayakan kemenangannya
Perkembangan Gundala-Gundala
Gundala-gundala ini awalnya dikenal dengan istilah tembut-tembut. Yang
berasal dari kata nembut-nembuti yang artinya menakut-nakuti. Tembut-tembut ini menggunakan topeng yang berbentuk seram sehingga saat mengantar jenazah para arwah tidak akan mendekati.
Perbedaan yang menonjol dari gundala-gundala dan tembut-tembut dapat dilihat dari segi fungsi. Gundala-gundala berfungsi sebagai media hiburan dan tembut-tembut sebagai upacara ritual sehingga sebelum melakukan ritual properti dari tembut-tembut ini tidak boleh disentuh secara sembarangan.
Topeng dari gundala-gundala ini menggunakan warna putih sebagai raja, kuning sebagai permaisuri dan putri, hitam sebagai panglima dan merah sebagai manuk sigurda-gurdi. Selain itu untuk melengkapi pertunjukkannya Gundala-gundala juga diiringi dengan berbagai alat musik seperti gendang, sarunai, gong, penganak serta menggunakan ansambel gendang lima sendalanen.

Gundala-gundala saat ini sedang menghadapi krisis dimana ditengah pandemi covid-19 ini banyak acara dan pesta adat sementara ditiadakan. Sehingga media untuk menampilkan Gundala-gundala ini semakin sedikit.

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *