Kecintaan Rahmawati Pada Usaha “Jamur Tiram” Menuai Hasil. Sempat Jatuh Bangun, Lalu Bangkit Lagi

Ket Foto 2 : Rahmawati saat memperlihatkan hasil pertanian Jamur Tiramnya.

Padahal saat itu kata dia, hasil panen sedang tumbuh banyak meskipun hasil tidak sempurna atau tidak sesuai standar jamur yang layak dijual di pasaran karena minimnya sentuhan tangan dinginnya.

Semangat yang dulu ada membuat luntur seketika. Waktu pun berjalan, semak belukar mulai berdatangan di rumah kumbung jamur semakin lesu semangat hidupnya.

“Bisa dikatakan saat itu saya berhenti total di usaha jamur. Kerja serabutan pun mulai dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih ditambah suami tidak bekerja dan mulai masuk masa pandemi Covid-19. Rasanya sangat malu bila berjumpa dengan orang-orang CSR PTBA, karena saya masih ada angsuran yang belum lunas di PTBA,”ungkapnya.

Lebih lanjut Rahmawati menceritakan, dahulu pernah merasakan setelah masa inkubasi selama 40 hari bisa panen 3-4 kali sehari. Hasil panen ini yang kemudian diolah menjadi berbagai macam kreasi makanan yang menggungah selera seperti sate, nugget, bakso, jamur cripsy, stik jamur, pangsit dan banyak lagi yang kemudian akan di distribusikan secara luas.

Goresan-goresan indah ini pernah menjadi percakapan bersama suami, apakah bisa terulang kembali, hingga akhirnya babak baru untuk kembali ke cinta pada pandangan pertama yaitu jamur tiram dirasakan akan segera bertemu. Kedatangan Tim CSR ke lokasi kumbung jamur membuat cerita berbeda.

Benar saja, dengan penuh keluh kesah ia menyampaikan kepada Tim CSR PTBA tentang apa yang terjadi hingga kumbung jamurnya saat itu penuh dengan semak belukar.

Lalu melalui petunjuk dan bimbingan CSR PTBA, lantas ia membuat proposal bantuan untuk usaha jamur. Awal Januari 2021 diajukan proposal dan akhir Februari 2021 pencairan dana bantuan yang ke-2.

“Syukur Alhamdulillah, mungkin dengan kepercayaan akhirnya PTBA memberikan bantuan kembali untuk usaha jamur tiram melalui dana hibah sebesar Rp 15 juta,”ucapnya.

Dengan tetap menjadi binaan Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Jamur tetap bernama Kelompok Jamur Tiram “Bukit Mandiri” di Desa Keban Agung Kecamatan Lawang Kidul, akhirnya Rahmawati dan suaminya membuka lembaran usaha jamur tiram kembali.

“Bantuan ini membuat usaha jamur tiram yang dikelola bersama suami menjadi bangkit dari keterpurukan, bulan Juni kemarin panen perdana sebanyak 5 ribu baglog,”terangnya.

Ia sangat bersyukur bentuk tanggung jawab sosial dari Perusahaan untuk maju dan berkembang bersama lingkungan yang diberikan benar-benar bisa dirasakan.

Dan atas kepercayaan dari Perusahaan melalui pola mitra binaan PTBA, Rahmawati akan tetap mempertahankan dan terus meningkatkan kreasi produk olahan jamur dengan menambah banyak lagi varian-varian menarik dari jamur, sehingga tetap eksis dan memperluas pangsa pasar. (HAI)

 

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *