72.18 F
New York
Juli 13, 2020
Home » Akhirnya Meledak Juga Kemarahan Presiden
Nasional Opini

Akhirnya Meledak Juga Kemarahan Presiden

0Shares

Oleh : Djafar Badjeber

Presiden Joko Widodo yang selama ini kalam, intonasi bicaranya meledak dan sangat jengkel dengan para Menterinya.
Hal itu disampaikan presiden Joko Widodo alias Jokowi dihadapan Wakil presiden, Menteri Koordinator , para Menteri serta Lembaga / Badan minggu lalu di Jakarta.

Presiden marah dikarenakan dalam keadaan krisis para pembantunya hanya bersikap biasa-biasa saja, padal keadaan ini sudah extra ordinary. Suasana krisis ini jangan dianggal normal, ini bahaya sekali. Dalam situasi seperti penanganan managemen krisis sudah berbeda.

Bila diperlukan diperlukan Perpu dan Perpres saya siap keluarkan demi tanggung jawab saya kepada rakyat yang 267 juta. Asal untuk kepentingan rakyat dan bangsa saya pertaruhkan reputasi saya.

Mungkin baru kali ini presiden Jokowi menumpahkan kejengkelan dan kemarahannya. Wajar presiden jengkel dan marah karena persoalan covid 19 ini memerlukan kekompakan dan percepatan penanganan covid 19 dan pemulihan ekonomi. Mengingat dampak covid 19 telah merasuk kehidupan rakyat. Presiden sangat paham bahwa adanya covid 19 telah mengganggu perekonomian rakyat, banyak PHK, pengusaha UKM yang sudah diujung tanduk, bahkan ada yang gulung tikar dan lain sebagainya.

Presiden minta agar anggaran yang sudah dialokasikan dari APBN segera dikeluarkan alias dibelanjakan. Dengan adanya belanja setiap Kementerian tersebut maka dana itu bisa bergulir dan bermanfaat bagi rakyat. Hampir semua Kementrian diperkirakan belanjanya gak ada yang signifikan.

Secara khusus presiden Jokowi menyinggung dua instansi yaitu Kementrian Kesehatan dan Kementrian Sosial. Bahkan sentilan presiden kepada Kementrian Kesehatan yang sudah dialokasikan Rp 75 Trilyun baru digunakan 1, 35 persen. Memang sungguh keterlaluan, betapa sudah semester dua baru terserap sekecil itu. Padahal sebagian dana itu untuk beli peralatan, tunjakan dokter termasuk dokter spesialis. Kementerian seperti ini yang dimaksud presiden masih bekerja biasa-biasa saja, menganggap situasi normal .

Demikian juga, presiden menyinggung kinerja Kementerian Sosial yang dianggap lamban. Bansos itu ditunggu rakyat, jangan tunggu mati dulu baru dibantu. Cek lapangan apa beres atau tidak. Tentu yang perlu di cek dan di evaluasi apakah penerima BanSos tersebut adalah orang berhak atau tidak. Mungkin sampai ke kuping presiden adanya permasalahan dalam distribusi BanSos .Konon ada orang mampu secara ekonomi masih menerima BanSos sementara orang yang benar-benar susaaah tidak mendapatkan bantuan. Lagi pula bagaimana data orang yang sudah meninggal tapi masih tercatat sebagai orang yang berhak menerima BanSos.

Sebelum mengakhiri arahan, presiden sudah memberi aba-aba kemungkinan membubakar lembaga tertentu bila dianggap tidak produktif serta reshufel.

Yang terakhir ini memang sudah seringkali dibicarakan masyarakat. Ada yang menilai Kabinet pertama jauh lebih bagus dibandingkan Kabinet Kerja jilid II yang dianggap lemah dan lamban. Tentunya argumen itu bisa benar bisa tidak. Presiden-lah yang paling tahu soal kinerja pembantunya. Semua terpulang kepada para Menteri bisa kerja seperti presiden-kah ?

Penulis :
– Anggota MPR RI 1987- 1992
– Pimpinan DPRD DKI Jkt 1999-2004
– Waketum DPP Partai HANURA

0Shares

Related posts

DPC PKS Sawangan Depok Buka Puasa Bersama dan Sukuran

Lucky Iskandar

Ketua DPRD Nisut Berulang Kali Tak Hadiri Rapat yang Diundangkannya

Lucky Iskandar

Panglima TNI Berikan Tugas Khusus Kepada Pangdam I Bukit Barisan

Lucky Iskandar

Leave a Comment