72.18 F
New York
Juli 13, 2020
Home » Air Mata Labuhanbatu
Sosial Budaya Sumut

Air Mata Labuhanbatu

0Shares
PUSI DARI SEORANG AKTIVIS MEDIA

PLATMERAHNEWS,Bantuan sosial yang seyogianya dapat membantu mengurangi derita masyarakat imbas hantaman makhluk kasat mata kini berubah menjadi kisah perih.

Ricuh, ribut warga ramai berteriak dengan harapan bantuan sampai didepan pintu.

Hingga puncaknya terjadi kegaduhan di pelataran kantor Bupati yang kami cintai. Belasan ibu relah duduk tanpa alas di pintu masuk bangunan megah itu.

Sambil berteriak “kami lapar Pak”.

Pilu hati ini melihat ibu-ibu kami yang juga memeluk buah hati di gendongannya.

Tersiar kabar miring mereka telah di kendalikan oleh oknum-oknum seperti di muat pada laman beberapa media.

Aku tidak ingin menelisik terlalu jauh tentang cerita itu. Hatiku terusik satu kata benarkah orang kaya akan menjerit lapar.

Entahlah biar waktu yang mengungkap kebenarannya.

Mataku semangkin mengembun, mendengar cerita lain, tapi masih diruang yang sama bantuan sosial dampak covid.

Penyalur aspirasi, palayan masyarakat harus mendatangi kantor penegak hukum, ya… ruangan Kantor Polisi, Ia ingin meletakan hukum bagi warganya yang telah mengirimkan cerita tak berfakta.

Warga Labuhanbatu terjerat hukum karena bantuan sosial. Cuitan dimedia sosialnya menggiring pertanggungjawaban kepada Hukum.

Salah atau benar air mataku sudah terjatuh menyaksikan cerita ini. Gaduh membuat kami lupa ada virus yang sedang mengintai kehidupan.

Presiden kami, Pakde Jokowi berharap kebijakan diambil mampu menyegarkan jiwa-jiwa yang gelisa antara maut dan kelaparan. Tapi tidak disini. Kegaduhan mengancam seorang ibu tidur dibalik jeruji besi.

Mengapa harus harus berakhir seperti ini. Mengapa harus begini?

Kepada siapa akan kutujukan pertanyaan ini. Beri kami satu jawaban agar kita kembali ke Labuhanbatu yang sejuk.

Lihat jauh negara seberang untuk meletakan kepala untuk beristirahat saja terasa sulit. Diatas mereka melayang-layang timah panas, suara bising meriam tak henti pekakkan telingah. Mereka bersaudara namun saling menumpas.

Tapi kita yang hidup dalam kedamaian disini, malah mengundang tangis dan umbar amarah karena bantuan.

Apakah tidak ada lagi kata maaf’mu wahai pimpinanku. Apakah kami terlalu berdosa untuk engkau maaf’kan.

Bukankah Sang pemilik Bumi juga membuka pintu maaf kepada hamba-hambaNya. Bukankah ini bulan penuh berkah.

Airmataku bercucur semangkin deras ketika suarakan hati yang semangkin sesak ini.

Biarlah, biarlah kami menangis karenamu yang gagal sejukan labuhanbatuku.

Engkau yang dititipkan amanah. Engkau yang dititipkan kecerdasan dan Engkau, yang mengaku pengayom masyarakat.

Oleh : Jan Saiman Ambarita ( Jurnalis Platmerah Kontributor Kab Labuhan Batu)

0Shares

Related posts

Kodim 0619 Purwakarta Gelar Rakornis Program TMMD Ke-106

Lucky Iskandar

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Asafa Memberi Pesan Begini…

Lucky Iskandar

Gaji Karyawan TUS TPL Sesuai Dengan UMK Toba

Agus Nainggolan

Leave a Comment