81.48 F
New York
Agustus 10, 2020
Home » Gigit Jari Lagi? Pendapatan Nihil Anjlok Hingga 2020 Freeport Tak Berbagi Dividen
Ekonomi dan Bisnis

Gigit Jari Lagi? Pendapatan Nihil Anjlok Hingga 2020 Freeport Tak Berbagi Dividen

0Shares

Jakarta, (JAI).- PT Freeport Indonesia dipastikan akan mengalami penurunan produksi konsentrat tembaga besar-besaran tahun ini. Penurunan produksi disebabkan karena masa transisi perpindahan operasional tambang terbuka (open pit) beralih ke tambang bawah tanah. “Penurunan produksi karena ada transisi dari tambang terbuka ke bawah tanah. Penurunan hanya sementara, nanti setelah itu akan stabil lagi,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, produksi Freeport baru akan stabil pada 2021, sedangkan untuk puncak produksi akan terjadi pada 2025 mendatang. Untuk tahun ini produksi konsentrat tembaga Freeport diprediksi turun drastis dibandingkan tahun lalu. Tahun ini produksi Freeport diprediksi hanya mencapai 1,2 juta ton jauh dibandingkan hasil produksi sepanjang 2018 mencapai 2,1 juta ton. Penurunan produksi akan berdampak pada pendapatan Freeport Indonesia.

Berdasarkan catatan pendapatan Freeport Indonesia hanya USD3,14 miliar. Sedangkan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi atau earnings before interest, tax, depreciation, dan amortization (EBITDA) pada tahun yang sama ialah USD1,25 miliar. Angka tersebut anjlok lebih separuh karena pendapatan Freeport Indonesia pada 2018 mencapai USD6,52 miliar dan EBITDA sebesar USD4 miliar.

Pendapatan Freeport Indonesia baru bisa mencapai USD6 miliar pada 2022. Sementara pada 2020 diprediksi mencapai USD3,83 miliar dan EBITDA sebesar USD1,79 miliar. Kemudian pada 2021 pendapatan diprediksi mencapai USD5,12 miliar dan EBITDA mencapai USD2,64 miliar. Sementara pada 2022 pendapatan Freeport Indonesia mencapai USD6,16 miliar dan EBITDA USD3,62 miliar, setelah itu akan kembali stabil bahkan mencapai USD7 miliar.

Direktur Mineral pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Yunus Saefulhak menambahkan, produksi Freeport tahun lalu sebesar 2,1 juta ton sepanjang 2018, yakni 1,2 juta ton bijih untuk diekspor dan 800.000 ton untuk memasok smelting Gresik, Jawa Timur. Sedangkan untuk proyeksi tahun ini sebesar 1,2 juta ton, yakni sebesar 1 juta ton akan dipasok untuk memenuhi kebutuhan smelting Gresik dan 200.000 ton untuk diekspor.

“Dalam kurun waktu 2019–2020 produksi akan turun karena harus menyiapkan berbagai macam infrastruktur dan kesiapan produksi. Ada proses membangun infrastruktur, bikin jalan, dan macam-macam,” ujarnya. Lebih lanjut dia katakan, penurunan produksi di tambang terbuka sudah mulai menurun, sedangkan underground mine belum mampu menutupi penurunan produksi.

Dirut PT Inalum

Senada disampaikan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium alias Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan PT Freeport Indonesia tidak bakal membagikan dividen selama dua tahun atau hingga 2020. Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bagaimana perusahaannya bisa melunasi utang terkait pembiayaan divestasi PT Freeport Indonesia beberapa waktu lalu. Terutama karena beberapa tahun yang akan datang produksi tambang tembaga dan emas itu diprediksi akan turun.

Pasalnya EBITDA Freeport dalam dua tahun ini akan merosot drastis akibat akan berhentinya produksi dari tambang terbuka Grasberg tahun ini. “Jadi kita enggak bakal bagi dividen selama dua tahun, nol sampai 2020,” kata Budi, Jakarta, (9/1/2019). Sementara, pendapatan dari produksi di tambang bawah tanah itu bakal mulai ada pada 2021. Saat itu, produksi diperkirakan baru sedikit dan akan mulai besar pada 2022 hingga mencapai kestabilan pada 2023.

Dipastikan bahwa tahun ini EBITDA Freeport bakal merosot ketimbang sebelumnya lantaran Grasberg Open Pit habis pada 2019 dan diganti dengan tambang bawah tanah. “Ini akan berproduksi maksimal di sekitar 2023, dan nanti akan mulai stabil. Jangan dimarahi kalau produksi turun di 2019 dan 2020, bukan karena tambangnya habis.” Ujar Budi.

Jadi menurut Budi, Freeport bakal meraih laba sekitar US$ 2 miliar per tahun pasca 2023 nanti. Meski begitu, EBITDA perusahaan tambang tembaga dan emas itu pada 2019-2020 diprediksi bakal anjlok lantaran berhentinya produksi dari Tambang Terbuka Grasberg, produksi stabil pada 2023 nanti, Inalum yang memegang 51 persen saham Freeport akan mengantongi laba sekitar US$ 1 miliar per tahun. “Jadi kalau kami utang US$ 4 miliar, bisa diselesaikan dalam empat tahun, bunganya juga rendah hanya 6 persen,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, sewaktu yang lalu.

Dalam keadaan stabil tersebut, kata Budi, Freeport bakal memiliki revenue sebesar US$ 7 miliar per tahun atau sekitar Rp 98 triliun per tahun dengan asumsi nilai tukar Rp 14 ribu per dolar AS. Selanjutnya, EBITDA perseroan dalam keadaan stabil mencapai US$ 4 miliar atau RP 56 triliun. (7o3Rn4L:__TiM Lapsus)

0Shares

Related posts

PT TPL Latih Masyarakat Jadi Petani Kopi yang Handal

Lucky Iskandar

Tekan Inflasi, Bos BI Ajak Masyarakat Konsumsi Cabai Kering : Enak dan Pedas

Lucky Iskandar

Kunjungi Garut, Jokowi Borong Sabun Cuci Piring Senilai Rp 2 Miliar

iim

Leave a Comment