Angin Beliung Gasak Rancaekek, BNPB Catat 96 Rumah Rusak dan 16 Jiwa Terluka

JURNAL AKTUALINDO.- Angin puting beliung meluluhlantakkan ratusan rumah yang ada di enam desa di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Beruntung kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa. Angin puting beliung yang terjadi, Jumat (11/1/2019) sore, yang mengakibatkan ratusan rumah luluh lantah.

Dari BNPB sementara mencatat kerusakan dan korban angin puting beliung yang menerjang Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, semnetara tercatat ada 96 rumah rusak berat dan ringan serta ada 16 orang yang mengalami luka-luka. Sebelumnya, beberapa sumber menagtakan diperkirakan terdapat Ratusan rumah rusak akibat tersapu angin puting beliung.

Rumah tersebut berada di tiga desa wilayah Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. “Jumlah rumah yang rusak ratusan, yang berada di tiga desa di antaranya Desa Jelegong, Bojongloa dan Rancaekek Kencana,” kata Camat Rancaekek Baban Banjar kepada wartawan, Jumat (11/1/2018).

Dia mengungkapkan jumlah rumah rusak paling banyak di Desa Jelegong. Mayoritas kerusakannya bagian atap rumah. “Jelegong jumlah rumah yang rusak ratusan, saat ini kami tengah melakukan pendataan karena belum semua wilayah terkontrol. Petugas sudah di lapangan,” ucapnya.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Sementara sejumlah warga yang mengalami luka ringan sudah ditangani. “Saya sudah pantau langsung ke TKP, belum semua wilayah terpantau,” kata Baban. Pihaknya sudah melakukan pemantauan bersama BPBD, Basarnas, PMI, TNI Polri, Brimob Polda Jabar dan sejumlah relawan.

Dari keterangan Baban diperoleh informasi ada sejumlah warga yang rumahnya rusak berat untuk sementara waktu mengungsi ke rumah kerabat dan masjid. “Banyak yang mengungsi, di tampung di mesjid wilayah sana. Sekarang listrik padam, penerangan sementara kita belikan lilin dan mi untuk makanan warga,” ujar Baban.

Pihaknya belum dapat memastikan kerusakan dan korban dalam kejadian ini. Saat ini anggota Kantor SAR Bandung tengah mengecek ada atau tidaknya dampak dari puting beliung. “Kita sedang koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bandung untuk pendataan kerusakan materilnya,” kata Joshua.

Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Menurut BPBD “Data sementara yang berhasil dihimpun BPBD Kabupaten Bandung, dampak puting beliung tercatat 1 orang luka berat, 15 orang luka ringan, 15 rumah rusak berat, 71 rumah rusak ringan, dan lebih dari 300 rumah rusak yang belum dikelompokkan tingkat kerusakannya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat keterangan tertulisnya, Jumat (11/1/2019).

Peristiwa ini terjadi pada pukul 15.15 WIB tadi. Sutopo mengatakan jumlah kerusakan bangunan bisa bertambah karena pendataan masih berjalan. Tercatat daerah yang mengalami kerusakan ada di Perum Rancaekek Kencana Blok 16 RW 16 dan RW 08 Desa Jelegong, Rancaekek. Kerusakan juga terjadi di perumahan lain. “Atap rumah banyak yang diterbangkan oleh puting beliung,” ucapnya.

Sebelum kejadian, pagi cuaca cerah, kemudian pada siang awan banyak terbentuk dan terdapat awan kumulonimbus yang menutup daerah di Rancaekek dan sekitarnya. Langit terlihat mendung dan hawa gerah. Menjelang sore, bertiup angin yang makin lama makin kencang disertai hujan berintensitas sedang hingga tinggi. Puting beliung terlihat di langit sesaat.

Sutopo mengatakan bencana puting beliung makin meningkat tiap tahun. Bencana ini dipicu oleh dampak perubahan iklim dan perubahan penggunaan lahan. “Peningkatan puting beliung disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan, dampak perubahan iklim yang menyebabkan makin meningkatnya ketidakstabilan dinamika atmosfer lokal, dan aktivitas penduduk dan lainnya,” tuturnya.

Pemasangan tenda pengungsi oleh TNI dan Brimob Polda Jabar dilakukan untuk menampung sebagian masyarakat yang mengungsi. Tagana, BPBD, dan relawan membantu pengungsi. Kondisi listrik masih padam. “Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsi sementara, terpal, alat penerangan, bahan makanan, dan air bersih,” kata Sutopo.

Pantauan Wartawan di TKP

Nafsiyah (67), janda seorang diri tinggal di sebuah rumah yang rusak berat akibat angina puting beliung salah satu korban yang merupakan warga Perumahan Kencana 2, Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek. Dari pantauan wartawan, Sabtu (12/1/2019) dimana atap rumah milik Nafsiyah tersebut roboh tersapu angin. Selain itu, barang-barang yang ada di dalam rumahnya seperti alat dapur, kursi, lemari, lukisan, rusak berserakan.

Ia menuturkan kejadian bencana alam ini terjadi pada sore hari, saat dirinya sedang memasak di dapur rumahnya. “Pas kejadian, saya sedang masak mendengar ada riuh-riuh diluar. Saya lari, ternyata tetangga saya sudah melihat pusaran angin di atas langit,” kata Nafsiyah, ditemui di rumahnya.

Nafsiyah, dan warga lainnya langsung berlari ke arah masjid untuk menyelamatkan diri. Pada waktu kejadian, dirimya melihat pusarang angin yang membawa sampah. “Banyak yang bertebaran, sampah dan segala macem termasuk puing-puing bangunan. Saya lari, sebelumnya matiin dulu kompor, langsung cari perlindungan cari lahan luas, ternyata angin mengikuti dan saya ke masjid dan balik lagi ke rumah, saya gendong cucu, saya lemes melihatnya,” ungkapnya.

Dalam kondisi pakaian basah kuyup, karena pasca kejadian puting beliung terjadi hujan, Nafsiyah kembali lagi ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Namun nahhas, saat membuka pintu rumahnya sudah rusak akibat tersapu angin puting beliung. “Saya mau ganti baju, buka pintu rumah saya kondisinya sudah seperti ini. Sudah hancur semua,” jelasnya.

Akibat kejadian ini, hanya atap kamar rumah Nafsiyah yang tidak rusak. Namun tetap saja atap kamarnya bocor sehingga tidak bisa ditinggali. Ia pun kini mengungsi ke rumah anaknya yang masih satu kompleks. “Saya tidur di anak saya, anak saya beda blok tapi tidak kena. Jadi tidur di sana di Blok D, ini Blok B, barusan saya pulang lagi ke sini,” ujarnya.

Menurutnya, hamir 90 persen rumahnya rusak dan tidak dapat ditinggali. “Kerusakan 90 persenan, di kamar juga oara bocor, rusak semua, di depan habis juga tidak ada yang bisa digunakan dan harus diperbaiki,” katanya.

Sementara itu, warga lainnya Fifit (45) mengatakan, ada dua pusaran angin pada waktu kejadian. Pusaran angin pertama tidak terkalu besar dan pusaran angin kedua terjadi cukup besar dan merusak rumah warga “Anginnya dua kali, angin yang pertama enggak merusak. Rumah warga banyak yang rusak pas angin kedua, puing-puing bangunan tersapu angin dan setelah itu langsung berserakan,” jelasnya.

Warga lainnya, Iman (36) berujar sebelum merusak rumah warga, pusaran angin sudah terlihat dari jauh dan menyodot air di pesawahan lalu mengarah ke pemukiman. “Durasinya sekitar lima menit dari mulai muncul pusaran angin sampai menghancurkan rumah warga. Alhamdullilah saya dan keluarga selamat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada waktu kejadian warga belarian menyelamatkan diri ke tanah lapang. “Pokoknya kami mencari lapangan, yang tidak ada bangunan. Jelas sekali saat angin merusak rumah warga,” pungkasnya. (7o3Rn4L:__TiM Lapsus Peduli Bencana)

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *