Tradisi Unik Suku Dayak, Rumah Adat ‘Balug’ Penyimpan Tengkorak

JURNAL AKTUALINDO.- Suku Dayak Bidayuh di Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat memiliki tempat ibadah unik yang diberi nama Balug. Kini, jumlah balug bisa dihitung jari, dan jika tak ada yang merawat, rumah Balug akan punah ditelan zaman

Rumah adat Dusun Hli Buei, Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat ini memiliki kenunikan tersendiri. Meski serumpun dengan Suku Dayak, bentuk rumah adat Suku Dayak Bidayuh berbeda dari Suku Dayak yang kebanyakan berbentuk panjang dan besar atau yang dikenal dengan nama rumah Betang.

Rumah adat bernama Balug ini memiliki bentuk seperti kaleng ceper beratap limas, dengan 3 tingkatan dan 1 buah bumbungan sebagai tempat menyimpan peti berisi tengkorak. Ada 21 tiang penyangga untuk memperkokoh balug, lantainya terbuat dari kayu belian, dengan dinding terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari daun sagu dengan ketinggian bangunan sekitar 20 meter.

Balug biasanya dibangun di dataran paling tinggi di kampung supaya makin mendekatkan diri kepada Tipaiyakng (Tuhan) dan memudahkan untuk memantau keadaan kampung. Selain itu juga balug digunakan sebagai pusat kegiatan warga kampung dan pusat informasi. Maka, untuk naik ke atas, harus menggunakan tangga terbuat dari sebatang kayu belian yang ditata menyerupai tangga.

Meski terlihat kecil, terdapat 3 tingkat di dalam rumah yang mirip limas ini. Tingkat pertama berisi tulang tulang kepala binatang hasil buruan, mulai dari babi hutan, rusa dan banyak lagi yang lain. Terdapat juga tungku untuk memasak, beberapa tempayan yang digunakan menyimpan air dan jimat untuk ritual. Alat musik seperti tawak dan gong juga diletakkan di sini serta beberapa alat masak dan alat dapur.

Di area tingkat pertama ada 2 jendela mendongak ke atas dan disangga dengan bambu dan menghadap timur dan barat. Jendela ini mewakili 2 klan prajurit yaitu Demos (timur) dan Danum (barat). Fungsi jendela ini sebagai penanda jika salah satu klan berhasil mendapatkan kepala pada saat Ngayau, maka jendela akan terbuka dan dari sana ditembakkan senapan lantak.

Selain hanya berfungsi sebagai penghubung lantai 1 dan 3, lantai 2 digunakan untuk menyimpan sebuah bedug atau Sibakng sepanjang kurang lebih 9 meter yang terbuat dari kayu bira yang dilubangi bagian tengahnya dan untuk ditambahkan kulit rusa.

Lantai 3 merupakan tempat sakral untuk melakukan ritual memandikan tengkorak, tidak bisa sembarangan orang berada disana, hanya 7 orang yang terdiri dari kepala adat dan 6 orang tetua yang boleh naik kesana untuk melakukan ritual. Lantai paling atas atau bumbungan adalah tempat kecil untuk menyimpan tengkorak kepala yang dikeramatkan dan dianggap sebagai Kamakng atau penjaga kampung.

Tengkorak tersimpan di dalam peti kayu berukuran 1x2m. Tidak sembarang orang bisa memegang dan memindahkannya dari lokasi itu. Tengkorak ini hanya dikeluarkan 1 tahun sekali pada saat Nyobeng, tradisi Suku Dayak Bidayuh untuk mengucap syukur.

Tengkorak dimandikan menggunakan darah ayam dan babi. Dulu, Rumah Balug dulu digunakan untuk melakukan musyawarah dan mufakat serta merupakan pusat dari segala informasi, juga penghubung antara warga dengan roh leluhur melalui perantaraan kepala adat. (Agung Gumilar)

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *